Gadis Penjual Air Mata
Pada zaman dahulu, di sebuah rumah gubuk di pedesaan,
hiduplah sepasang suami istri yang baru menikah. Mereka sangat ingin memiliki
keturunan, namun Tuhan belum menitipkan seorang anak untuk mereka. Setelah dua
puluh tahun menunggu, akhirnya Sinta istri dari seorang buruh tani pun
dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Sekarang terasa lengkap
dengan hadirnya bayi mungil. Rumahnya pun menjadi ramai dengan tangisan
bayinya. Bayi manis itu diberi nama Latifa Nur Azizah oleh Pak Firman dan
berharap semoga anaknya menjadi anak yang sholehah berbakti kepada kedua
orangtua, namun Pak Firman bingung bagaimana membiayai keluarganya, sedangkan
ia hanyalah buruh tani tidak tetap. Untuk memberinya sesuap nasi pun tak bisa.
Suatu hari Pak Firman memutuskan untuk melamar kerja di
tempat Pak Kasim, sang juragan baik hati yang kaya raya. Pak Firman berharap
mendapatkan pekerjaan. Di depan rumahnya terlihat Pak Kasim sedang duduk-duduk
santai. “Assalamu’alaiku Pak Kasim” Pak Firman memulai pembicaraan dengan penuh
harapan. “Wa’alaikumsalam, eh Pak Firman ada perlu apa ya datang kemari?” tanya
Pak Kasim dengan lembut seraya menjawab pertanyaan Pak Firman. “A.. anu Pak,
apakah ada lowongan pekerjaan untuk saya? Bapak tahu kan keadaan keluarga saya
seperti ini” kata Pak Firman dengan wajah yang sedih. “Oh iya iya, ada Pak tapi
jadi buruh tani tidak apa-apa?” kata Pak Kasim. “Tidak apa-apa Pak yang penting
cukup untuk biaya sehari hari keluarga ”
Akhirnya Pak Kasim memberikan pekerjaan yaitu menjadi buruh tani tetap
di sawahnya. Pak Firman merasa senang dan bersyukur akhirnya ia memiliki
pekerjan tetap di tempat Pak Kasim. Keesokan harinya, dengan penuh semangat Pak
Firman sudah berada di sawah Pak Kasim walau hari masih pagi. Ia pun mulai
membajak sawah. Berkat ketekunan, kesabaran dan keikhlasan Pak Firman,
padi-padi tumbuh dengan baik dan memanen hasil padi yang baik. Suatu hari, Bu
Sinta mengantarkan makan kepada suaminya yang masih membajak sawah sambil
menggendong Latifa kecil. Bu Sinta mengajak Pak Firman untuk istirahat sejenak
sambil makan siang di saung yang tak jauh dari tempatnya membajak. Waktu terus
berjalan, hari pun mulai senja. Pak Firman dan Bu Sinta bergegas pulang ke
rumah.
Hari demi hari Latifa tumbuh besar. Ia menjadi anak yang
sholehah dan berparas cantik dengan jilbab yang menutupi tubuhnya. Hingga pada
usia lima belas tahun sang ibu meninggal dunia. Latifa dan Pak Firman merasa
sedih, terpukul, dan sangat kehilangan sosok Bu Sinta yang berperan pentig
dalam hidupnya. Pada saat itu, Latifa hidup berdua dengan Pak Firman, namun
sebelum sang ibu meninggal ia memberikan
sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Latifa. Tiba-tiba Latifa teringat
dengan kotak kecil pemberian ibunya yang masih ia simpan di lemari bajunya dan
belum dibuka oleh siapapun. Kemudian Latifa mengambil kotak merah itu dengan
penasaran apa isi kotak merah pemberian Bu Sinta. Saat membuka kotak merah itu,
“Ya ampun, ternyata ini isi kotaknya!”. Sebuah kalung emas cantik dengan liotin
Love, ia sangat senang dan menyukai
kalung pemberian ibunya dan bergegas pergi ke sawah untuk memperlihatkan kepada
ayahnya. “Ayah…!!” Latifa memanggil Pak Firman dan berlari menghampirinya. “Ada
apa nak?” Tanya Pak Firman dengan kaget. “Ini yah, kotak kecil yang waktu itu
diberikan ibu isinya adalah kalung! Bagus tidak jika Latifa memakainya?” Tanya
Latifa dengan semangat. “Wah… Cantik sekali nak, selama ini ayah tidak tahu
bahwa ibumu pernah memiliki kalung secantik itu.” Jawab Pak Firman. Latifa
tersenyum melihat kalung pemberian ibunya itu dan pamit pulang dengan wajah
yang bahagia.
Namun, saat Latifa melihat kalung itu tiba-tiba ia merasa
sedih, karena ia teringat sosok ibu yang selalu ada untuknya “Andai ibu ada
disini.” Seru Latifa dalam hati sambil meneteskan airmata. Latifa masih ingat
ibunya pernah bilang bahwa ia jangan bersedih jika mengingat ibunya yang telah
tiada. Ia harus tegar dengan apa yang telah terjadi pada dirinya.
Singkat cerita, sudah dua tahun sang ibu meninggalkan
mereka berdua. Setiap hari Pak Firman membanting tulang untuk menghidupi
keluarganya. Latifa pun sering mengantarkan makanan kepada ayahnya di sawah.
“Aku kasihan kepada ayah yang setiap hari membanting tulang untukku.” Ucapnya
dalam hati. “Aku harus membantu meringankan pekerjaan ayah! Aku akan berjualan
makanan hasil memasak siapa tahu bisa membantu untuk hidup sehari-hari.”ucapnya
dengan tegas. Ia meminta izin kepada
ayahnya untuk berjualan dan berharap ayahnya dapat mengizinkan . Akhirnya Pak
Firman pun mengizinkan Latifa berjualan.
Keesokan harinya Latifa memasak makanan yang banyak untuk
dijual. Ia menjual makanannya berkeliling desa dengan membawa dua buah tas besar tempat menyimpan makanan dan
sebuah dompet untuk menyimpan uang hasil berjualan. Dagangan nya pun banyak
yang membeli. Latifa sangat senang. Dan saat melewati sawah Pak Kasim yang
luas, ia melihat Pak Firman sedang membajak sawah lalu dihampirinya. Kemudian menceritakan
pengalaman pertamanya berjualan keliling desa. “Ayah, ini Latifa bawakan
makanan untuk ayah!” Sambil memberikan rantang yang berisi makanan untuk
ayahnya. “Terima kasih nak, yasudah kamu pulang saja besok kan mau jualan
lagi.” Perintah Pak Firman “Yasudah Latifa pulang dulu yah.” Jawabnya sambil
menenteng tas besar yang kosong karena dagangan nya habis terjual. Senja telah
tiba. Pak Firman pulang dari sawah. Ia melihat latifa yang tertidur pulas di
kursi, lalu ia mengusap kepala Latifa dengan penuh kasih sayang. “Nak kamu
sungguh baik dan mau membantu ayahmu ini, maafkan ayah karena sudah membuatmu repot.”
Kata Pak Firman sambil tersenyum. Latifa pun terbangun. “Hoaam… Oh ayah sudah
pulang?” Tanya Latifa. “Iya nak, aduh maaf ya ayah sudah membangunkanmu.” Jawab
Pak Firman. “Tidak yah, lagi pula Latifa sudah tidur terlalu lama” Jawab Latifa
dan langsung bergegas untuk menyiapkan makanan untuk makan malam.
Suatu hari Pak Firman jatuh sakit. Ia sedih dan bingung.
Merasa tidak mungkin jika ia harus membawa ayahnya ke Puskesmas yang terletak
sangat jauh dari desa. Ia memikirkan berbagai cara untuk membawa ayahnya
berobat. Untunglah saat itu ada puskesmas keliling ke desanya. Ia pun bergegas
memanggil dokter Puskesmas keliling untuk ke rumahnya dan memeriksa keadaan
ayahnya. Dokter berkata bahwa Pak Firman divonis mengidap penyakit Jantung
akut. Saat mendengar pernyataan dokter tersebut Latifa merasa sedih dan tanpa
sadar meneteskan airmata. Ia harus kuat dan tegar menghadapi semuanya.
Hari demi hari Latifa terus berjualan. Hasilnya untuk
membeli obat dan kebutuhan sehari-hari. Pak Firman tidak lagi bekerja di sawah
Pak Kasim karena penyakitya yang makin parah dan sering kambuh. Dan hanya
Latifa lah tulang punggung keluarga. Ia tidak pernah mengeluh dengan apa yang
telah menimpa dirinya. Ia tahu bahwa Tuhan sangat sayang padanya.
Suatu hari saat Latifa pulang berjualan, sang ayah
berteriak meminta tolong. Sontak saja Latifa terkejut dan langsung bergegas
menuju kamar pak Firman. “Ayah… Kenapa?” Tanya Latifa dengan panik. “To...
tolong nak dada ayah sakit!” Jawab Pak Firman sambil memegang dadanya “Yah, ayah
kenapa? Aku khawatir sama ayah! Ayah baik-baik saja kan?” kata Latifa sambil
menangis “Jangan menangis anakku sayang, maafkan ayah karena sudah
menyusahkanmu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan tinggalkan shalat lima waktu”
jawab Pak Firman dengan tersenyum sambil mengusap airmatanya. Akhirnya Pak
Firman menghembuskan napas terakhirnya dipangkuan anaknya. Sekarang ia hidup
sebatang kara. Keesokannya Latifa tetap berjualan meski airmatanya terus
mengalir mengingat kedua orangtua tercintanya sudah tiada. Hanya sedikit orang
yang membeli dagangannya karena ia terus menangis. Ia mulai kehabisan uang
untuk modal jualannya.
Akhirnya, Latifa menjual korek api, namun tidak
seorangpun yang mau membeli barang dagangan barunya itu. “Siapapun, tolonglah
beli korek api ini. Jika ada yang mau membeli panggilah aku!” Teriak Latifa
menawarkan dagangannya. Usahanya tidak berhasil. Tidak satu orangpun membeli
korek apinya.“Apa lagi yang harus aku jual? Kini aku sudah tak punya apa-apa
lagi.” Pikir Latifa sambil bersedih. “Kini aku hanya punya air mata yang terus
mengalir. Aku harus apa sekarang?”. Latifa terus menangis di pojokan desa
hingga malam tiba, Latifa pun pulang ke rumah dan hanya meminum air untuk
menghilangkan rasa haus sekaligus laparnya karena belum makan dari pagi. Oleh
warga desa, Latifa dijuluki Gadis Penjual
Airmata karena ia selalu menangis saat berjualan. Tetapi suatu hari,
saat berjualan ada seorang pemuda tampan
menghampirinya. Badannya tinggi dengan kulit sawo matang memakai celana jeans
dengan baju kotak-kotak biru. Pemuda tampan itu adalah putra dari Pak Kasim
yang bernama Indra. “Hai Latifa!” Sapa Indra. “Kamu mau membeli korek api ini?”
Tanya Latifa “Iya, aku akan membeli semuanya. Perkenalkan namaku Indra.” Jawab
Indra. “Indra? Kamu anaknya Pak Kasim? Yasudah ini belilah semua korek api
ini!” Latifa menyerahkan semua korek api
itu. “Tetapi aku juga akan membeli kesedihanmu!” Jawab Indra “Apa katamu?
Membeli kesedihanku?” tanya Latifa
dengan terkejut. “Biasa saja tidak usah kaget seperti itu. Iya, aku akan
membuat kesedihanmu sirna, aku akan menikahimu Latifa!” Jawab Indra “Apa? Kamu
mau menikahiku?” tanya Latifa. “Iya, sejak dulu aku menyukaimu. Kamu cantik,
baik, dan pekerja keras. Aku ragu apakah kamu juga menyukaiku. Mungkin sekarang
waktu yang tepat untuk mengatakan ini. Jadi, maukah kamu menjadi pendamping
hidupku?” tanya indra sambil memegang tangannya. “I..Iya, aku mau. Sebenarnya
aku juga telah lama menyukaimu. Namun aku sadar aku hanyalah seoarang anak
buruh tani di sawah ayahmu.” Katanya sambil tereyum manis. Latifa masih belum percaya dengan kedatangan Indra
yang tiba-tiba melamarnya. Akhirnya Indra menikahi Latifa dan kini Indra telah
memperbaiki hidup Latifa yang awalnya telah hancur. Latifa dan Indra hidup
bahagia selamanya, Latifa kini tidak terus menangis.
Jadi, kesedihan akan sirna oleh kebahagiaan. Satu
kesedihan akan terobati oleh sejuta kebahagiaan yang dapat membuat kesedihan
itu sirna.
Judul ceritanya diambil dari sebuah lagu, semoga suka. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar