Sabtu, 27 Juni 2015

Cerita Pendek



Gadis Penjual Air Mata
            Pada zaman dahulu, di sebuah rumah gubuk di pedesaan, hiduplah sepasang suami istri yang baru menikah. Mereka sangat ingin memiliki keturunan, namun Tuhan belum menitipkan seorang anak untuk mereka. Setelah dua puluh tahun menunggu, akhirnya Sinta istri dari seorang buruh tani pun dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Sekarang terasa lengkap dengan hadirnya bayi mungil. Rumahnya pun menjadi ramai dengan tangisan bayinya. Bayi manis itu diberi nama Latifa Nur Azizah oleh Pak Firman dan berharap semoga anaknya menjadi anak yang sholehah berbakti kepada kedua orangtua, namun Pak Firman bingung bagaimana membiayai keluarganya, sedangkan ia hanyalah buruh tani tidak tetap. Untuk memberinya sesuap nasi pun tak bisa.
            Suatu hari Pak Firman memutuskan untuk melamar kerja di tempat Pak Kasim, sang juragan baik hati yang kaya raya. Pak Firman berharap mendapatkan pekerjaan. Di depan rumahnya terlihat Pak Kasim sedang duduk-duduk santai. “Assalamu’alaiku Pak Kasim” Pak Firman memulai pembicaraan dengan penuh harapan. “Wa’alaikumsalam, eh Pak Firman ada perlu apa ya datang kemari?” tanya Pak Kasim dengan lembut seraya menjawab pertanyaan Pak Firman. “A.. anu Pak, apakah ada lowongan pekerjaan untuk saya? Bapak tahu kan keadaan keluarga saya seperti ini” kata Pak Firman dengan wajah yang sedih. “Oh iya iya, ada Pak tapi jadi buruh tani tidak apa-apa?” kata Pak Kasim. “Tidak apa-apa Pak yang penting cukup untuk biaya sehari hari keluarga ”  Akhirnya Pak Kasim memberikan pekerjaan yaitu menjadi buruh tani tetap di sawahnya. Pak Firman merasa senang dan bersyukur akhirnya ia memiliki pekerjan tetap di tempat Pak Kasim. Keesokan harinya, dengan penuh semangat Pak Firman sudah berada di sawah Pak Kasim walau hari masih pagi. Ia pun mulai membajak sawah. Berkat ketekunan, kesabaran dan keikhlasan Pak Firman, padi-padi tumbuh dengan baik dan memanen hasil padi yang baik. Suatu hari, Bu Sinta mengantarkan makan kepada suaminya yang masih membajak sawah sambil menggendong Latifa kecil. Bu Sinta mengajak Pak Firman untuk istirahat sejenak sambil makan siang di saung yang tak jauh dari tempatnya membajak. Waktu terus berjalan, hari pun mulai senja. Pak Firman dan Bu Sinta bergegas pulang ke rumah.
            Hari demi hari Latifa tumbuh besar. Ia menjadi anak yang sholehah dan berparas cantik dengan jilbab yang menutupi tubuhnya. Hingga pada usia lima belas tahun sang ibu meninggal dunia. Latifa dan Pak Firman merasa sedih, terpukul, dan sangat kehilangan sosok Bu Sinta yang berperan pentig dalam hidupnya. Pada saat itu, Latifa hidup berdua dengan Pak Firman, namun sebelum sang ibu meninggal ia  memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah kepada Latifa. Tiba-tiba Latifa teringat dengan kotak kecil pemberian ibunya yang masih ia simpan di lemari bajunya dan belum dibuka oleh siapapun. Kemudian Latifa mengambil kotak merah itu dengan penasaran apa isi kotak merah pemberian Bu Sinta. Saat membuka kotak merah itu, “Ya ampun, ternyata ini isi kotaknya!”. Sebuah kalung emas cantik dengan liotin Love, ia sangat senang dan menyukai kalung pemberian ibunya dan bergegas pergi ke sawah untuk memperlihatkan kepada ayahnya. “Ayah…!!” Latifa memanggil Pak Firman dan berlari menghampirinya. “Ada apa nak?” Tanya Pak Firman dengan kaget. “Ini yah, kotak kecil yang waktu itu diberikan ibu isinya adalah kalung! Bagus tidak jika Latifa memakainya?” Tanya Latifa dengan semangat. “Wah… Cantik sekali nak, selama ini ayah tidak tahu bahwa ibumu pernah memiliki kalung secantik itu.” Jawab Pak Firman. Latifa tersenyum melihat kalung pemberian ibunya itu dan pamit pulang dengan wajah yang bahagia.
            Namun, saat Latifa melihat kalung itu tiba-tiba ia merasa sedih, karena ia teringat sosok ibu yang selalu ada untuknya “Andai ibu ada disini.” Seru Latifa dalam hati sambil meneteskan airmata. Latifa masih ingat ibunya pernah bilang bahwa ia jangan bersedih jika mengingat ibunya yang telah tiada. Ia harus tegar dengan apa yang telah terjadi pada dirinya.
            Singkat cerita, sudah dua tahun sang ibu meninggalkan mereka berdua. Setiap hari Pak Firman membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Latifa pun sering mengantarkan makanan kepada ayahnya di sawah. “Aku kasihan kepada ayah yang setiap hari membanting tulang untukku.” Ucapnya dalam hati. “Aku harus membantu meringankan pekerjaan ayah! Aku akan berjualan makanan hasil memasak siapa tahu bisa membantu untuk hidup sehari-hari.”ucapnya dengan tegas. Ia  meminta izin kepada ayahnya untuk berjualan dan berharap ayahnya dapat mengizinkan . Akhirnya Pak Firman pun mengizinkan Latifa berjualan.
            Keesokan harinya Latifa memasak makanan yang banyak untuk dijual. Ia menjual makanannya berkeliling desa dengan membawa dua  buah tas besar tempat menyimpan makanan dan sebuah dompet untuk menyimpan uang hasil berjualan. Dagangan nya pun banyak yang membeli. Latifa sangat senang. Dan saat melewati sawah Pak Kasim yang luas, ia melihat Pak Firman sedang membajak sawah lalu   dihampirinya. Kemudian menceritakan pengalaman pertamanya berjualan keliling desa. “Ayah, ini Latifa bawakan makanan untuk ayah!” Sambil memberikan rantang yang berisi makanan untuk ayahnya. “Terima kasih nak, yasudah kamu pulang saja besok kan mau jualan lagi.” Perintah Pak Firman “Yasudah Latifa pulang dulu yah.” Jawabnya sambil menenteng tas besar yang kosong karena dagangan nya habis terjual. Senja telah tiba. Pak Firman pulang dari sawah. Ia melihat latifa yang tertidur pulas di kursi, lalu ia mengusap kepala Latifa dengan penuh kasih sayang. “Nak kamu sungguh baik dan mau membantu ayahmu ini, maafkan ayah karena sudah membuatmu repot.” Kata Pak Firman sambil tersenyum. Latifa pun terbangun. “Hoaam… Oh ayah sudah pulang?” Tanya Latifa. “Iya nak, aduh maaf ya ayah sudah membangunkanmu.” Jawab Pak Firman. “Tidak yah, lagi pula Latifa sudah tidur terlalu lama” Jawab Latifa dan langsung bergegas untuk menyiapkan makanan untuk makan malam.
            Suatu hari Pak Firman jatuh sakit. Ia sedih dan bingung. Merasa tidak mungkin jika ia harus membawa ayahnya ke Puskesmas yang terletak sangat jauh dari desa. Ia memikirkan berbagai cara untuk membawa ayahnya berobat. Untunglah saat itu ada puskesmas keliling ke desanya. Ia pun bergegas memanggil dokter Puskesmas keliling untuk ke rumahnya dan memeriksa keadaan ayahnya. Dokter berkata bahwa Pak Firman divonis mengidap penyakit Jantung akut. Saat mendengar pernyataan dokter tersebut Latifa merasa sedih dan tanpa sadar meneteskan airmata. Ia harus kuat dan tegar menghadapi semuanya.
            Hari demi hari Latifa terus berjualan. Hasilnya untuk membeli obat dan kebutuhan sehari-hari. Pak Firman tidak lagi bekerja di sawah Pak Kasim karena penyakitya yang makin parah dan sering kambuh. Dan hanya Latifa lah tulang punggung keluarga. Ia tidak pernah mengeluh dengan apa yang telah menimpa dirinya. Ia tahu bahwa Tuhan sangat sayang padanya.
            Suatu hari saat Latifa pulang berjualan, sang ayah berteriak meminta tolong. Sontak saja Latifa terkejut dan langsung bergegas menuju kamar pak Firman. “Ayah… Kenapa?” Tanya Latifa dengan panik. “To... tolong nak dada ayah sakit!” Jawab Pak Firman sambil memegang dadanya “Yah, ayah kenapa? Aku khawatir sama ayah! Ayah baik-baik saja kan?” kata Latifa sambil menangis “Jangan menangis anakku sayang, maafkan ayah karena sudah menyusahkanmu. Jaga dirimu baik-baik. Jangan tinggalkan shalat lima waktu” jawab Pak Firman dengan tersenyum sambil mengusap airmatanya. Akhirnya Pak Firman menghembuskan napas terakhirnya dipangkuan anaknya. Sekarang ia hidup sebatang kara. Keesokannya Latifa tetap berjualan meski airmatanya terus mengalir mengingat kedua orangtua tercintanya sudah tiada. Hanya sedikit orang yang membeli dagangannya karena ia terus menangis. Ia mulai kehabisan uang untuk modal jualannya.
            Akhirnya, Latifa menjual korek api, namun tidak seorangpun yang mau membeli barang dagangan barunya itu. “Siapapun, tolonglah beli korek api ini. Jika ada yang mau membeli panggilah aku!” Teriak Latifa menawarkan dagangannya. Usahanya tidak berhasil. Tidak satu orangpun membeli korek apinya.“Apa lagi yang harus aku jual? Kini aku sudah tak punya apa-apa lagi.” Pikir Latifa sambil bersedih. “Kini aku hanya punya air mata yang terus mengalir. Aku harus apa sekarang?”. Latifa terus menangis di pojokan desa hingga malam tiba, Latifa pun pulang ke rumah dan hanya meminum air untuk menghilangkan rasa haus sekaligus laparnya karena belum makan dari pagi. Oleh warga desa, Latifa dijuluki Gadis Penjual Airmata karena ia selalu menangis saat berjualan. Tetapi suatu hari, saat  berjualan ada seorang pemuda tampan menghampirinya. Badannya tinggi dengan kulit sawo matang memakai celana jeans dengan baju kotak-kotak biru. Pemuda tampan itu adalah putra dari Pak Kasim yang bernama Indra. “Hai Latifa!” Sapa Indra. “Kamu mau membeli korek api ini?” Tanya Latifa “Iya, aku akan membeli semuanya. Perkenalkan namaku Indra.” Jawab Indra. “Indra? Kamu anaknya Pak Kasim? Yasudah ini belilah semua korek api ini!” Latifa  menyerahkan semua korek api itu. “Tetapi aku juga akan membeli kesedihanmu!” Jawab Indra “Apa katamu? Membeli kesedihanku?” tanya Latifa  dengan terkejut. “Biasa saja tidak usah kaget seperti itu. Iya, aku akan membuat kesedihanmu sirna, aku akan menikahimu Latifa!” Jawab Indra “Apa? Kamu mau menikahiku?” tanya Latifa. “Iya, sejak dulu aku menyukaimu. Kamu cantik, baik, dan pekerja keras. Aku ragu apakah kamu juga menyukaiku. Mungkin sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan ini. Jadi, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?” tanya indra sambil memegang tangannya. “I..Iya, aku mau. Sebenarnya aku juga telah lama menyukaimu. Namun aku sadar aku hanyalah seoarang anak buruh tani di sawah ayahmu.” Katanya sambil tereyum manis. Latifa  masih belum percaya dengan kedatangan Indra yang tiba-tiba melamarnya. Akhirnya Indra menikahi Latifa dan kini Indra telah memperbaiki hidup Latifa yang awalnya telah hancur. Latifa dan Indra hidup bahagia selamanya, Latifa kini tidak terus menangis.
            Jadi, kesedihan akan sirna oleh kebahagiaan. Satu kesedihan akan terobati oleh sejuta kebahagiaan yang dapat membuat kesedihan itu sirna.


Judul ceritanya diambil dari sebuah lagu, semoga suka. Terima kasih telah mengunjungi blog ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar